BLITAR – Gema lagu "Ibu Kita Kartini" membubung tinggi di langit Desa Kaulon. Pagi ini, UPT SD Negeri Kaulon 01 bersalin rupa. Tidak ada seragam merah-putih yang terlihat; sebagai gantinya, halaman sekolah berubah menjadi panggung budaya yang menampilkan keanggunan kebaya, kain batik, hingga keunikan busana tempo dulu (jadul) yang sarat makna.s.
Tepat pukul 07.00 WIB, upacara bendera dimulai. Namun, ada yang istimewa dan memukau perhatian seluruh peserta. Dalam rangka menghormati semangat emansipasi R.A. Kartini, seluruh jajaran petugas upacara adalah wanita. Mulai dari pemimpin upacara yang memberikan komando dengan tegas, pengibar bendera yang melangkah anggun namun pasti, hingga paduan suara, semuanya diperankan oleh siswi dan guru perempuan. Pemandangan ini menjadi simbol nyata bahwa perempuan memiliki kapabilitas yang setara dalam memimpin dan menjalankan tugas negara. Ibu Sulastri, S.Pd., Kepala UPT SD Negeri Kaulon 01, bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam balutan pakaian daerah yang bersahaja, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang makna literasi dan pendidikan bagi perempuan modern. "Kartini masa kini adalah mereka yang tidak berhenti belajar. Pakaian adat yang kalian kenakan hari ini adalah simbol identitas, namun kecerdasan dan budi pekerti yang kalian miliki adalah kekuatan utama untuk mengubah dunia," tutur Ibu Sulastri dengan penuh semangat.
Tepat pukul 07.00 WIB, upacara bendera dimulai. Namun, ada yang istimewa dan memukau perhatian seluruh peserta. Dalam rangka menghormati semangat emansipasi R.A. Kartini, seluruh jajaran petugas upacara adalah wanita. Mulai dari pemimpin upacara yang memberikan komando dengan tegas, pengibar bendera yang melangkah anggun namun pasti, hingga paduan suara, semuanya diperankan oleh siswi dan guru perempuan. Pemandangan ini menjadi simbol nyata bahwa perempuan memiliki kapabilitas yang setara dalam memimpin dan menjalankan tugas negara. Ibu Sulastri, S.Pd., Kepala UPT SD Negeri Kaulon 01, bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam balutan pakaian daerah yang bersahaja, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang makna literasi dan pendidikan bagi perempuan modern. "Kartini masa kini adalah mereka yang tidak berhenti belajar. Pakaian adat yang kalian kenakan hari ini adalah simbol identitas, namun kecerdasan dan budi pekerti yang kalian miliki adalah kekuatan utama untuk mengubah dunia," tutur Ibu Sulastri dengan penuh semangat.
Di sisi lain bangunan sekolah, suasana kontras terlihat di koridor kelas 6. Tanpa hiruk-pikuk lomba, para siswa kelas akhir ini nampak duduk rapi dengan konsentrasi penuh. Mereka tengah melaksanakan Tes Kendali Mutu (TKA). Meski absen dalam kemeriahan lomba, pihak sekolah menegaskan bahwa apa yang dilakukan siswa kelas 6 adalah bentuk "Perjuangan Kartini" yang sesungguhnya di era modern. Menghadapi ujian dengan jujur dan tekun adalah manifestasi dari cita-cita Kartini untuk melihat anak bangsa yang terdidik dan berkualitas.
Kesuksesan acara ini tentu tidak lepas dari dukungan luar biasa para orang tua dan wali murid. Sejak pagi buta, mereka telah sibuk mempersiapkan putra-putrinya, mulai dari menata rambut hingga memastikan kain kebaya terpasang dengan sempurna. Pihak sekolah sangat mengapresiasi antusiasme wali murid yang turut melestarikan budaya bangsa melalui busana-busana daerah yang dikenakan siswa. Kebersamaan antara sekolah dan orang tua ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong yang diajarkan Kartini masih sangat kental dan terjaga dengan baik di lingkungan UPT SD Negeri Kaulon 01.
Peringatan Hari Kartini di UPT SD Negeri Kaulon 01 bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah pengingat bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa dan gender. Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai luhur perjuangan Kartini tetap membekas dalam sanubari seluruh siswa, mendorong mereka untuk terus bermimpi setinggi langit tanpa ragu. Selamat Hari Kartini, UPT SD Negeri Kaulon 01! Teruslah bersinar, para pelita bangsa!

0 Komentar